Kebahagiaan Akademik: Belajar dari Jacksen F. Tiago

Kebahagiaan Akademik: Belajar dari Jacksen F. Tiago

Oleh: Dudy Darmawan Wijaya – Dekan FITB (2026-2030)

Jacksen F. Tiago adalah putra Brazil tulen yang telah menjadi salah satu ikon sepakbola kawakan di Tanah Air. Sebagai pemain dan pelatih, dia telah beberapa kali membawa Si Bajul Ijo Persebaya dan Mutiara Hitam Persipura merajai Liga Primer Indonesia. Sekarang, dia menjadi manajer akademi sepakbola Borneo FC Yunior dengan tugas melahirkan talenta muda pesepakbola masa depan Tanah Air.

Pada sebuah wawancara di Youtube, Jacksen ditanya: “apa kebahagiaan anda sesaat setelah memenangkan sebuah pertandingan?”. Dia menjawab dengan senyum merekah: “kebahagiaan utama bukan karena kami mampu mengalahkan rival, tapi ketika imajinasi cara kami bermain bisa dirancang dalam sesi latihan, lalu ia benar-benar hadir dalam pertandingan sesungguhnya di depan jutaan penonton”.

Sebuah jawaban sederhana, namun terasa dekat.


Sebagai insan akademik, kita mungkin pernah berhenti sejenak untuk bertanya: di manakah letak kebahagiaan kita? Apakah ketika sebuah tulisan berstatus accepted? Ataukah ketika sebuah imajinasi hadir secara nyata melalui sebuah tulisan yang bermakna?

Seperti halnya Jacksen, kita pun memiliki sesi latihan yang hadir dalam proses membaca, menganalisis, memahami, lalu menuliskannya. Semua itu tidak selalu mudah, bahkan bisa membuat kita ragu pada imajinasi sendiri, tetapi justru dari sanalah sebuah karya bisa tumbuh.

Sering kali kita menunda demi menunggu hasil yang lebih sempurna. Padahal, karya tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa berawal dari langkah kecil—satu halaman, satu gagasan, serta satu upaya untuk melanjutkan. Dan ketika proses itu terus dijalani, perlahan imajinasi kita mulai menemukan bentuknya.

Mungkin di situlah letak kebahagiaan kita. Bukan semata pada capaian akhir, tetapi pada perjalanan menghadirkan sesuatu yang sebelumnya hanya ada dalam pikiran. Sebuah karya yang jujur, yang mencerminkan cara kita berpikir, dan yang menjadi bagian dari kontribusi kita.

Pada titik terdalam, berkarya adalah cara kita mengada dengan membentuk dunia melalui gagasan yang kita rumuskan, serta melalui makna yang kita hadirkan. Sejatinya, apa yang kita tulis bukan sekadar rangkaian kata, tetapi jejak keberadaan kita dalam percakapan panjang ilmu pengetahuan. Percakapan yang tidak pernah berhenti, bahkan ketika kita tidak lagi hadir untuk menyaksikannya.

Barangkali, di sanalah kebahagiaan itu—dalam karya akademik yang kita hadirkan, dan makna yang kita tinggalkan.

@BukitLigar, 19032026

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesia